Jilid 02dari 05 dalam kategori
Aversi Kerugian Loss Aversion
Kecenderungan merasakan kerugian lebih berat daripada keuntungan yang sama besarnya, yang dapat mendorong keputusan untuk 'menghapus' rugi alih-alih mengikuti rencana.
Draf Belum ditinjau dan belum bersumber. Angka dalam contoh adalah ilustrasi, bukan data pasar atau rekomendasi.
Mengapa Ini Penting
Rencana risiko yang baik tidak ada gunanya bila ditinggalkan tepat saat paling dibutuhkan, yaitu setelah rugi. Aversi kerugian membantu menjelaskan mengapa banyak keputusan paling buruk justru dibuat sesudah kerugian: menahan posisi yang sudah salah, menggeser stop loss, atau membuka posisi lebih besar untuk “balik modal”.
Gagasan Utama
Aversi kerugian adalah kecenderungan merasakan kerugian lebih berat daripada keuntungan yang sama besarnya. Kehilangan Rp1.000.000 biasanya terasa lebih menyakitkan daripada rasa senang saat mendapat Rp1.000.000.
Gagasan ini dikenal luas melalui prospect theory yang dikembangkan Daniel Kahneman dan Amos Tversky (1979). Sumber rujukannya belum dipasang di halaman ini dan menunggu verifikasi.
Aversi kerugian bukan kebodohan; ini kecenderungan manusiawi yang umum. Masalah muncul ketika perasaan itu yang mengambil keputusan, bukan rencana.
Penjelasan Sederhana
Bayangkan Anda kehilangan dompet berisi Rp200.000 di pagi hari, lalu menemukan uang Rp200.000 di jalan sore harinya. Secara hitungan, posisi Anda kembali seperti semula. Namun banyak orang tetap merasa harinya buruk, karena rasa kehilangan di pagi hari lebih membekas.
Dalam trading, rasa “belum impas” inilah yang mendorong keinginan untuk segera menghapus kerugian.
Contoh Kehidupan Nyata
Ilustrasi. Seorang teman menawarkan permainan lempar koin yang adil: bila keluar gambar Anda mendapat Rp1.200.000, bila keluar angka Anda membayar Rp1.000.000.
Nilai harapan = 0,5 × Rp1.200.000 − 0,5 × Rp1.000.000 = +Rp100.000
Secara hitungan permainan ini menguntungkan, tetapi banyak orang tetap ragu menerimanya. Kemungkinan kehilangan Rp1.000.000 terasa lebih berat daripada kemungkinan mendapat Rp1.200.000.
Contoh Keuangan
Ilustrasi. Seorang investor memegang dua saham: satu sudah untung 20%, satu sudah rugi 20%. Ia butuh dana dan harus menjual salah satunya. Banyak orang cenderung menjual yang untung (“mengamankan keuntungan”) dan menahan yang rugi (“tunggu balik dulu”), padahal keputusan yang lebih masuk akal adalah menilai kedua saham berdasarkan prospeknya ke depan, bukan berdasarkan harga beli.
Contoh Trading
Ilustrasi, bukan rekomendasi. Seorang trader dengan risiko 1% per transaksi mengalami dua kali stop loss berturut-turut. Ia merasa “harus balik hari ini”, lalu membuka posisi baru tanpa sinyal yang sesuai rencana, dengan ukuran tiga kali lipat.
- Posisi ketiga tidak memiliki peluang menang yang lebih besar hanya karena dua posisi sebelumnya kalah. Setiap transaksi berdiri sendiri (lihat Nilai Harapan).
- Bila posisi ketiga ini juga kena stop loss, kerugiannya 3% sekaligus, sehingga total hari itu menjadi 5%, bukan 3%.
- Pola ini, yang sering disebut revenge trading atau “ngejar balik”, adalah jalan cepat menuju risiko kehancuran.
Cara Kerja Konsep
Karena perasaan setelah rugi sulit dilawan saat itu juga, cara paling andal adalah memutuskan aturannya sebelum rugi terjadi, saat kepala masih dingin. Contoh aturan yang bisa dipertimbangkan:
- Ukuran posisi tidak boleh dinaikkan setelah rugi. Ukuran hanya dihitung dari rencana risiko, bukan dari keinginan balik modal.
- Jeda setelah beberapa kali rugi. Misalnya berhenti membuka posisi baru setelah dua kali stop loss dalam satu hari.
- Batas kerugian harian. Bila tercapai, hari trading selesai.
- Catatan sebelum entry. Menuliskan alasan entry membantu membedakan transaksi yang sesuai rencana dari transaksi yang didorong emosi.
Aturan-aturan ini tidak menghilangkan rasa kesal setelah rugi. Tujuannya membuat rasa kesal itu tidak lagi menentukan ukuran dan waktu transaksi berikutnya.
Masalah Trader Terkait
“Kenapa habis loss gue malah ngejar balik?”
Keputusan Setelah rugi: berhenti, lanjut dengan ukuran normal sesuai rencana, atau memperbesar posisi untuk balik modal.
Konsep Terkait
- Risiko KehancuranKemungkinan modal turun sampai titik di mana Anda tidak bisa atau tidak sanggup lagi melanjutkan, bahkan bila pendekatan Anda punya nilai harapan positif.
- Nilai HarapanRata-rata tertimbang dari semua kemungkinan hasil, dengan probabilitas setiap hasil sebagai bobotnya.
- Teori ProspekModel deskriptif tentang cara orang memilih di bawah risiko: hasil dinilai relatif terhadap titik acuan, rugi terasa lebih berat, dan peluang kecil cenderung diberi bobot berlebih.
- Efek DisposisiKecenderungan investor terlalu cepat menjual posisi yang sedang untung dan terlalu lama menahan posisi yang sedang rugi.
Sumber
Belum ada sumber terverifikasi untuk konsep ini.